Ungkapanperasaan tentang lingkungan dapat diluapkan melalui puisi. Dalam penulisan puisi tentang lingkungan, para penyair kontemporer cenderung menulis seputar keindahan dan kerusakan alam, terutama efek negatif dari aktivitas manusia di planet Bumi. Lingkungan sekitar kini semakin rusak karena pencemaran yang dilakukan manusia.
Puisi tentang alam adalah puisi yang bercerita tentang berbagai fenomena di alam, Seperti pegunungan, pedesaan, pantai, laut, atau tentang alam yang rusak. Puisi alam biasanya terdiri dari berapa bait. Ada puisi yang hanya terdiri dari 2 bait, tiga bait, empat empat bait dan lima bait. Keindahan alam selalu menjadi pesona bagi manusia. Keindahan alam bisa dilihat dari deburan ombak di Pantai, hamparan laut yang indah, maupun hamparan sawah di pedesaan. Tetapi alam yang rusak bisa menjadi penyebab bala bencana. Seperti bencana banjir ataupun kekeringan. Puisi ini adalah puisi singkat tentang pegunungan. Puisi alam gunung memang selalu ada. Sebab gunung merupakan salah satu inspirasi terciptanya puisi. Tinggi Menjulang Tinggi menjulang dirimu Bagaimana bentuk Awan Kelabu Dari jauh bagai mengambang Indah terpesona semua Insan. Gunung yang sangat tinggi Ingin sekali aku mendaki Pasti kakiku letih Jika tidak terlatih. Hamparan Di Tepi Gunung Angin datang dan berdesir Di pegunungan yang menyisir Diantara hamparan sawah Tempat petani mencari nafkah. Alangkah indah hamparan sawah berkelak-kelok amatlah megah ingin badanku rebah Menikmati segarnya udara. 2. Puisi Tentang Alam Yang Rusak Alam yang indah bisa saja rusak karena ulah manusia. Seperti hutan yang lebar kini menjadi gundul. Sehingga akan mudah terkena banjir. Baca selanjutnya di puisi banjir. Sungaiku Kenapa Kotor? Air sungai terus mengalir Sangat jernih dan bersih Ikan-ikan pun berenang Bermain-main dengan senang. Kenapa Sungai kotor kini Banyak sampah di sana sini Airnya pun menjadi keruh Aromanya menjadi bau. Hutanku Penjaga Desaku Setiap musim hujan tiba Ini hatiku berdebar-debar takut ada datang bencana Ke desa ku walau sebentar. Kini banjir bandang menerjang Karena telah hilang hutan Pohon-pohon banyak ditebang Hujan mencurah banjir pun datang. 3. Puisi Tentang Alam 4 Bait Puisi tentang alam berikut ini merupakan puisi yang terdiri dari 4 bait. Puisi merupakan salah satu karya sastra yang memiliki ciri adanya bait. Rindu Pada Pantai Bait 1 Kepada pantai aku rindu Bermain dengan ombak gelombang Di pasir putih yang berbunyi Bersama camar yang melayang. Biat 2 Kepada perahu Aku rindu Yang berdiam di tepi pantai Milik nelayan yang berburu Ikan-ikan di tengah lautan. Bait 3 Kepada angin yang semilir Aku rindu untuk bermain Menerpa wajah rambutku Sampai datang waktu senja. Bait 4 Kepada Karang yang menjulang Tegar selalu menghalau badai Walau diterpa oleh gelombang Tiada menangis dan berderai. Sawahku Indah Bait 1 Kupandang sawah luas terhampar Di tepi gunung udara segar Di desa ayah bundaku Tempat aku dilahirkan. Bait 2 Sawah indah dipandang mata Warnanya bagai disepuh emas Kurasa bahagia di jiwa Kupandang pandang yang tak mau lepas. Bait 3 Sawah ini begitu indah Semuanya adalah anugerah Dari Tuhan Yang Maha indah Untuk kebahagiaan manusia. Bait 4 Mari jaga indahnya alam Jangan dirusak jangan dibiarkan Jaga terus agar Lestari Agar dinikmati generasi nanti. 4. Puisi Alam 3 Bait Desaku Yang Kucinta Bait 1 Desaku amatlah Permai sawah terbentang luas Tumbuhan semakin hijau Alangkah segar pemandangan. Bait 2 Burung-burung selalu berkicau Di antara pepohonan Bernyanyi riang gembira Di pagi hari menyambut sang surya. Bait 3 Para petani pergi bekerja Ke ladangnya atau ke sawah Memetik sayur dan buah Untuk dijual jauh ke kota. Anak Pantai Bait 1 Bermain aku di tepi pantai Berkejar-kejaran dengan ombak Melihat orang duduk bersantai Menikmati indahnya alam. Bait 2 Perahu terombang ambing Disentuh oleh gelombang Angin datang bersemilir Menyentuh wajah Karang. Bait 3 Berjemur di bawah Mentari Di tepi pantai Aku bekerja Kulit hitam terbakar Tetapi bersyukur aku kepada-Nya. 4. Puisi Alam 2 Bait Langit Membentang Bait 1 Mentari bersinar terang Cahayanya ke Mayapada Langit cerah tak membayang bersih dari awan-awannya. Bait 2 Betapa luas langit membentang Tak tahu aku dimana ujungnya Semua itu ciptaan Tuhan Agar kita mengenal keagungan-Nya. Ombak Di Laut Bait 1 Ombak lautan datang berderai membawa buih di tepi pantai Menerjang batu karang Pulang kembali ke lautan. Bait 2 Ombak lautan selalu datang walau cerah walau membadai Berdebur tiada henti Memecah alam yang sunyi. 5. Puisi Tentang Alam Pedesaan Alam pedesaan selalu Permai. Melihat sawah dan sungai. Kebun kebun tumbuh subur. Sawah dan padi begitu menghibur. Alam Pedesaan Turun Kabut tipis tipis Di waktu pagi di alam desa Segar udara masuk ke dada Rasa damai dan Sentosa. Angin menyentuh pucuk daun menerpa pula pada bunga Alam terlihat amat Permai Mendamaikan segenap jiwa. Anak Gembala Di padang rumput itu Anak Gembala sedang menjaga Mengurus banyak domba-domba Hingga waktu datang senja. Domba bermain dengan riang Memakan rumput segar dan hijau Tak terlihat resah Gelisah Yang ada hanya damai. 6. Puisi Alam Untuk Anak SD Belajar membuat puisi sudah kita mulai ketika duduk di kelas sekolah dasar. Biasanya membuat puisi dengan tema alam, keluarga, ataupun lainnya. Misalnya puisi tentang kunang-kunang atau puisi tentang kupu-kupu. Karena anak-anak akan senang bermain di alam bebas. Puisi Kupu-Kupu Aku lihat kupu-kupu Bermain di taman bunga Sayapnya berwarna biru Dari sini terbang kesana. Kupu-kupu terlihat riang Bermain-main dengan kembang Kesana kemari bagai penari Selalu begitu di pagi hari. Kunang-Kunang Wahai kunang-kunang Dari mana engkau datang Tubuhmu membawa Lampu Menjadikan Malam begitu terang. Kunang-kunang yang ku sayang Ajari diriku Bagaimana terbang Supaya aku bisa ikut denganmu Menjelajah Kesunyian malam. 7. Puisi Alam Indonesia Indonesia merupakan negara yang kaya raya dan juga indah. Indonesia memiliki banyak kekayaan dan keindahan. Mulai dari pantainya, gunung, sawah, dan lautannya. Indonesiaku Indah Indonesiaku amatlah indah Pantai Gunung serta lembah Terhampar luas antero Nusantara Anugerah dari Tuhan Yang Esa. Gunung-gunung tinggi menjulang Sawah-sawah luas terhampar Pantai-pantai begitu indah Lautan membentang tak sudah sudah. Indonesiaku amatlah indah Bagaikan Zamrud Khatulistiwa Kita semua harus menjaga Agar Lestari alam kita. Hutan Pinus Gunung Di hutan pinus di Desaku Ada udara yang begitu segar Membuat diriku selalu rindu Rindu di dada amat bergetar. Hutan pinus melebur rindu yang memanggil jiwaku doaku moga lestari alam indah nan berseri. 8. Puisi Tentang Air Terjun Deras mengalir air jernih jatuh membuncah di bawah suaramu merdu nyanyian alam pecah sunyi penuh kemerduan. Bergeranjas jatuh Dengan cara yang paling Anggun Suaramu menenangkan hati Tarianmu menghias indah. … Sunyi Kau berada ditengah kesepian Jauh dari pemukiman Selalu jadi Kerinduan Dari jiwa setiap Insan Kau mengalir dari jauh Di tempat itu engkau jatuh Dengan suara yang bergemuruh Di kolam kecil engkau berlabuh. 9. Indahnya Alam Lingkungan Kita bisa membuat puisi tentang alam sekitar kita. Tidak harus tentang gunung, pantai, sungai, ataupun lautan. Tetapi kita bisa juga menuliskan puisi tentang alam sekitar kita, seperti pohon, kupu-kupu, lapangan tempat bermain, dan sejenisnya. Berikut ini adalah contoh tentang keindahan alam sekitar. Pohon Tempat Kami Di bawah rindang daun-daun Diantara dahan-dahan Di sana lah kami bermain Bergembira bersama teman. Pohon berdiri telah lama Sebelum kami lahir ke dunia Menemani kita dan cerita Kenangan kami kelak dewasa. Menyusur Sungai Air mengalir padamu Dari hulu hingga Hilir Jauh sekali engkau mengalir. Engkau memberi kehidupan Untuk mengairi persawahan Menyuburkan berbagai tumbuhan Sebagai anugerah Tuhan. 10. Keindahan Alam Pagi Pecah Ketika pagi pecah Langit pun mulai memerah Pantai Cahaya Sang Fajar Pagi hari yang bergetar perlahan-lahan Bangkitlah Surya Menerangi Alam Raya Menyemburatkan cahaya Memberi hangat pada insan manusia. Nyanyian Semesta Dan angin pun bersemilir Menyentuh ujung ilalang Dan iapun menggeletar Menjatuhkan bunga putihnya. Padang ilalang di waktu senja Membawakan sebuah aroma Ketika ditimpa cahaya senja Terlihat betapa indahnya. Alam Ciptaan Tuhan Berkelipan bintang di langit Menghiasi gelap malam Memagari sang Rembulan bintang kecil amat alit. Alangkah indah ciptaan Tuhan Menjadi hiasan bagi Insan Agar bersujud kepada-Nya Mengagungkan seagung-agung-Nya. 11. Kasih Sayang Kepada Alam Telah diberikan keindahan Telah diberikan kemudahan Untuk kita dari alam Sesama makhluk ciptaan Tuhan. Jangan kita menyakiti Biarkan alam tumbuh berseri Kepada makhluk Marilah sayang Agar hidup selalu Harmoni. Kasih Sayang Sesama Manusia Apa gunanya iri dengki Hanya membuat sakit hati Kasih sayang itu lebih utama Bermanfaat di alam sana. Kasih sayang kepada sesama Agar hidup tentram bahagia Tolong menolong menjadi utama Jiwa pun akan merasa Sentosa. 12. Puisi Fenomena Alam Fenomena alam biasanya terjadi di sekitar kita. Contohnya adalah gunung meletus, Gempa bumi, atau banjir yang melanda. Merapi Meletus Suara menggelegar Mengeluarkan awan putih Cuaca menjadi panas Saat engkau berubah ganas. Gunung yang indah kini mengamuk Menakutkan hati manusia Keluar lahar Hawa panas Gunung tenang menjadi garang. Banjir Tak Pernah Usai Di kotaku ini Ada cerita yang tak pernah henti Setiap kali musim penghujan Rumah kami ikut terendam. Hutan-hutan telah habis Pertumbuhan makin terkikis Air hujan tak bisa disimpan Hanya mengalir dan menenggelamkan. Mari kita melestarikan Tanam lagi pepohonan Agar terhindar dari bencana Ketika musim penghujan tiba. . . Gejala alam menandakan adanya sesuatu yang berhubungan dengan manusia. Kadang-kadang manusia tidak menyadari bahwa bencana tersebut karena ulah manusia itu sendiri. Ada orang yang tidak pernah membuang sampah kecuali di sungai. Ada pula yang mengambil keuntungan dari hutan. Oleh karena itu Mari kita jaga kelestarian dan keindahan alami. 13. Bencana Gempa Bumi pun bergetar Rumah-rumah berderak Manusia Limbung Saat bencana gempa Datang dengan tiba-tiba. Jika gempa sudah melanda Rumah mewah bagaikan kertas Runtuh semua seketika Jangan tanah rumahpun rata. Gempa Bumi Jika terjadi gempa bumi Manusia panik karenanya Yang terpikir keselamatan diri Jangan sampai dia celaka. Gempa bumi akan terjadi Semakin banyak di akhir zaman Karena dosa-dosa Insani Yang tak taat kepada Tuhan. 14. Alam Hijau Menikmati Semilir Duduk aku di Gubuk Tua Diantara bentangan sawah Menghijau ia warnai desa Perasaanku begitu Sentosa Alam Hijau di pedesaan Udara segar yang kita rasakan Bersih jauh dari debu debu Harus disyukuri sepanjang waktu. Aku duduk di Gubuk Tua Memandang hijaunya sawah Menikmati angin semilir Memandang sungai kecil yang mengalir. Hijaunya Alamku Alangkah indahnya alam Menghijau luas membentang Di sanalah ada kehidupan Dari dahulu hingga sekarang. Alamku hijau dan Permai Begitu indah dipandang mata Penduduknya merasa damai Menikmati anugerah dari-Nya. 15. Kerusakan Alam Jeritan Alam Hutan-hutanku kau babat Suaku kau penuhi dengan polusi Udaraku kau penuhi dengan polusi. Mengapa Wahai Manusia Engkau rusak diriku ini Padahal segalanya telah kuberikan Dari hasil kekayaan ini. Jagalah Alam Dari lautanku, Engkau mengambil ikan. Dari sawah-sawah ku Engkau mengambil padi. Dari perut perutku, Kau ambil emas pasir dan tembaga Dari bersih udaraku Engkau dengan nafas. 16. Pantun Jelajah Alam Susur Sungai Kususuri dengan kakiku Sungai kecil yang berpasir Dari ketinggian bukit Hingga turun ke tanah lembah. Betapa bahagia didalam jiwa menjelajahi alam ciptaan-Nya Terasa besar Keagungan Tuhan Sedangkan aku seorang hamba. Rindu Hutan Aku rindukan suasana hutan Dengan aromanya yang tak dilupa Suara terdengar dari hewan Memasuki hutan Melalui Jalan Setapak Ditemani burung-burung Serta nyanyian margasatwa. 17. Rindu Alam Aku merindukan lagi menjelajahi Alam Hijau Di suasana desa pada sawah yang berlumpur. Lelah aku melihat tembok Ingin ku lepaskan pandangan Benda langit yang biru Ditemani awan Gemawan. Hujan Di Balik Jendela Setiap kali hujan gerimis Terdengar merdu suaranya Menimpa atap rumah Ketika itu di waktu senja. Aku duduk di balik jendela Menatap gerimis turun ke bumi Di dalam hati ada kehangatan Sebab gerimis adalah anugerah Tuhan. Kutatap sendu pada awan Yang warnanya mulai kelabu Mungkin saja hujan selesai Meninggalkan udara bersih. 18. Kutatap Pelangi Jika gerimis turun berderai Di bawah cahaya matahari Mata hatiku pun berdenyai Melihat warna-warni sang Pelangi. Ia bagaikan mahkota Di bentangan langit begitu indah Warnanya sungguh sangat tertata Menghilangkan segala gundah. 19. Kicau Burung Pagi Hari Kicau burung di pagi hari Amat riang mereka bernyanyi Bermain-main di pucuk Cempaka Menemani datangnya Surya. Burung yang jelita Kulihat engkau begitu bahagia Dalam hidup penuh Kemesraan Engkau terbang bersama teman-teman. 20. Mendung Hitam Sebelum turun hujan Ada pertanda dari alam Awan putih telah berganti Warnanya kini menjadi hitam. Mendung hitam menggelayuti Di pucuk langit di atas bumi Hujan turun sebagai anugerah Menghidupkan tumbuhan Bumi. 21. Sungai Jika aku minta di sungai Kaki Bukit di dekat gunung Hatiku langsung terasa damai Pikiran pun mudah merenung. Dari ketinggian Air mengalir dengan Anggun Mengirim cinta ke sawah-sawah Menyenangkan hati para petani. Sungai Ini begitu dingin Airnya jernih begitu bening Untuk diminum oleh manusia Dijadikan makanan untuk yang lainnya. 23. Alam Pegunungan Di gunung yang tinggi Jalannya berkelok-kelok Jauh sekali. Turun dan mendaki Jalan berkelok Alam yang sunyi. Kabut Kabut turun di pagi hari Bersama embun embun Menyambut cahaya matahari Menerpa daun-daun. Kabut tipis melayah-layah Di antara hutan pinus. Kicau burung terdengar indah Insan terpana bagai terbius. 24. Alam Negeriku Pohon-pohon telah tumbuh Dari zaman dahulu Sebelum lahir kakekku Alam Negeriku begitu kaya Gunung sungai lautan dan lembah Terbentang begitu saja amat indah. 25. Awan-Awan Bertebaran ia di angkasa Menghiasi langit yang biru Kadang putih kadang kelabu Memayungi Bumi Indahku. Awan Gemawan sangat menawan di atas sana selalu mengambang Mengikuti angin kemana Ke selatan ataupun ke Utara. Kadang ia terlihat tipis Di waktu senja yang memerah Kadang Putih saat gerimis Atau saat cuaca cerah. 26. Purnama Bila datang waktu Purnama Kami bermandikan dengan cahaya Berlari-lari di halaman rumah Menikmati Purnama Raya. Di depan rumah itu duduk pula Ayah ibuku Bercerita mereka berdua Sambil memperhatikan kami semua. Saat Purnama tiba hati kami selalu ceria Di tepi sungai rumah kami Tempat terbaik menatap Berkah Apabila pagi pecah Dari kapulasan tidurnya Bagaikan seorang putri Disambut kabut serta embun. Pagi ini pagi yang berkah Ketika angin semilir Dari lautan menuju lembah Mengembara ke mana saja. 27. Embun Pagi Embun telah turun Semenjak malam tadi. Menjadi kabut misteri Tapi menyejukan hari. Embun bening berseri Kepada daun menghampiri Padang rumput rumput di kaki Hilang bila datang Mentari. 28. Ketemukan Embun Pagi Hanya embun pagi Yang aku temui Sebelum datang Mentari Menggantung ia di pucuk daun. Embun hanya di malam hari Untuk menyejukkan alam ini Agar Insan beristirahat Dalam tidur yang lelap. 29. Setetes Embun Walaupun tanah kering kerontang Embun pagi datang menyapa Menetes jatuh ke atas bumi Mengusir duka dan nestapa. Embun bekerja di malam hari Agar segar tanaman Walau tak ada orang memperhatikan Setiap malam ia akan datang. 30. Segar Telah ku jumpai daun daunku, Yang siang tadi hampir layu Kini dia segar kembali Sebab disentuh embun pagi. Bunga bunga ini mekar Daun-daun membuka lebar Saat tersentuh Mentari Embun hilang dan pergi. 31. Puisi Ombak Laut Biru Tiada henti dia berderai Bergelombang dari lautan Datang menyentuh bibir pantai Suara berdebur memecah kesunyian. Pasir Putih menyambut riang Mempersilahkan ombak datang Begitu juga dengan batu karang Bersama camar yang melayang. 32. Pantai Pangandaran Dari dahulu engkau terkenal Dengan ombaknya yang begitu besar Menerjang kapal-kapal nelayan Menggulung buih di tepi pantai. Ombak menari-nari Terpesona mata yang memandang Suaramu sepanjang hari Bagaikan sebuah nyanyian. 33. Puisi Alam Pegunungan Diliputi Kabut tipis Bagaikan tempat penuh misteri Kau terlihat di pagi hari Dampak hilang di waktu siang. Dari jauh engkau terlihat Tumbuh menjulang ke angkasa Meninggalkanmu terasa berat Jatuh cinta pada keindahannya. 34. Pemandangan Pedesaan Terlihat pasangan suami istripem Membawa pikulan menuju sawah Berjalan beriringan mereka berdua Dengan wajah penuh gembira. Hari ini ini hari memanen Padi di sawah sudah menguning Memetik padi sepanjang hari Penuh syukur di dalam hati. 35. Penggembala Domba Jika aku pulang ke desa Aku rindu pada anak gembala Yang membawa kawanan domba Jauh ke ladang mencari makan. Dia sigap mengatur barisan Bagaikan seorang komandan Kadang rebah di rerumputan Sambil menatap kawanan. 36. Pepohonanku Wahai pepohonanku Tetaplah hijau dan tumbuh Memberi naungan kepada kami Menyegarkan udara ini. Daun-daunmu begitu hijau Menyerap panas Mentari Dahan-dahan mau begitu kuat Tempat bermain bagi kami. Wahai pohon Jangan pernah engkau mengering Lindungilah bumi kami Dari bencana bernama banjir. Seraplah air yang mencurah Simpan pada akar-akarmu. Jangan engkau membiarkan Curahan air membuat tenggelam. 37. Alamku Sahabatku Alamku adalah sahabatku Tempat aku berdiam dan tinggal Dia telah banyak memberikan Apa yang aku butuhkan. Jangan hujan nya dia mencurahkan Segenap air yang kami butuhkan Dengan pepohonan yang dia tumbuhkan Kami menghirup kesegaran. Dengan lautan yang dihamparkan Kami berlayar mencari ikan Dengan gunung gunung menjulang Kami buat persawahan. Dengan alam Tuhan memberikan Segalanya yang manusia membutuhkan Agar mereka bersyukur Jangan sampai manusia kufur. Kepada-Nya kita bersujud Merendahkan diri ini Menjadi hamba yang mengerti Keagungan Ilahi Robbi. 38. Alam Yang Murka Sampah-sampah mengotori Sungai-sungai dan lautan Ikan-ikanpun mati oleh racun yang ditumpahkan. Nelayan pun jadi kesusahan Susah mencari ikan Lautan menjadi murka Sebab kelakuan manusia. 39. Dia Kala Senja Berhembus angin dengan kencang Melewati pepohonan Pemandangan semakin indah Saat senja telah tiba. Di senja ini aku berdoa Di senja ini aku bersyukur Di senja ini aku meminta Agar selalu bahagia. 40. Lelah Senja Begitu aku menikmati hari Saat petang akan menjelang Setelah sepanjang hari Lebih raga berpetualang. Telah aku memetik padi Di hamparan sawah yang menguning Semua lelah telah terbayar Jangan yang kudapat saat ini. 41. Padang Rumput Dan angin pun berhembus kencang Menerpa wajah rumputan Berkelana jauh dari lautan Mengembara sepanjang zaman. Aku titip sepenggal asa Atau jiwa yang terluka Pada angin dan pada senja Yang mengembara ke Mayapada. 42. Puncak Gunung Dari puncak ini Ku temukan kedamaian diri. Ada bentangan alam yang begitu sunyi Puncak gunung yang amat tinggi. Terasa diri amat kecil Di antara langit dan bumi Siapalah diriku ini Tak pantas untuk menyombongkan diri. 43. Bencana Asap Asap telah menjadi kabut Kamu telah mengotori Sesak nafas nafas kami karena hutan terbakar api. Hutan telah mereka musnahkan Jangan panasnya api Ambisi Asap melanda kepada kami Dipicu orang-orang berdasi. Margasatwa banyak yang mati Pembakaran ini membawa rugi Paru-paru kami rusak Hidup semakin terbelangsak. 44. Bumi Indah Perlahan-lahan senja pulang Dibawa oleh cahaya mentari Berganti dengan malam yang kelam Alam pun semakin sunyi. Aku ingin melihat bintang Yang selalu datang ketika malam Juga bersama Rembulan Cahayanya sejuk membahagiakan. Senja memang selalu indah Malam juga tak pernah kalah Ketika pagi pecah Bumi kita tetaplah indah. 45. Hamparan Pasir Di bibir pantai Aku memejamkan mataku Melepaskan lelah dan letih lelah jiwa menggerogoti. Terjatuh aku di pasir putih Maka kurebahkan tubuhku ini Menatap langit Berawan putih. Kadang Camar melayang-layang Turun ia mengail ikan Begitu indah lukisan alam Syahdunya tak tergantikan. Embusan angin begitu sejuk Samar-samar ombak berdebur Angin pun datang membelai Melepaskan segala resahku. 46. Bukit Anak kecil si penggembala Ia Merebahkan tubuhnya Di atas rerumputan Yang bersanding dengan ilalang. Kadang matanya terpejam Untuk melepas segala lelah Menikmati hembusan alam Terbawa mimpi yang sangat indah. Di atas bukit yang amat tinggi Ia labuhkan semua harapan Bahwa tak lama lagi Kerjanya akan memberi kekayaan. 47. Menunggu Purnama Tahukah Engkau wahai Rembulan Aku menunggumu menjadi Purnama Agar cahayamu kumandikan Keseluruh Raga di malam kelam. Tahukah Engkau wahai Rembulan Menatapmu membuka kenangan Di masa kecil dahulu Ketika aku ingin terbang kepadamu. Engkau selalu indah Dengan sejuknya cahaya Akupun tak pernah jemu Menatapmu sepanjang waktu. 48. Dari Hamparan Langit Dari hamparan langit Dari celah-celah awan Turun jatuh ke wajah bumi Dengan cara yang menawan. Engkau meresap ke dalam Bumi Membasahi akar-akar Mengusir debu-debu kemarau Yang memecah tanah sawah. Jika Tuhan telah mengirimkan Hujan yang turun di musimnya Pertanda tanah akan menghijau Kembali hidupkan bumi. 49. Puisi Alam Pantai Yang Indah Laut mendadak ramai Saat manusia pergi ke pantai Bermain-main dengan riang Dibawah Mentari bercahaya terang. Laut telah mengirimkan Ombaknya yang bergunung-gunung Hingga pecah di tepi pantai Memberi makna beribu-ribu. 50. Pantai di pagi hari Kala Mentari terbit Di ufuk timur yang jauh Kulihat kabut kabut lembut Di antara ombak berdebur. Burung-burung bernyanyi riang Menyambut Mentari di ujung sana Anginpun mulai bertiup kencang Menandakan datangnya kehidupan. Ombak mulai berkejar-kejaran Berlomba menuju Karang Kadang menyapu perahu di tepi Membuatnya bergoyang-goyang. 51. Oh Laut Oh laut Deburmu aku rindukan Gelombang aku nantikan Gemuruhmu aku puisikan. Oh laut Anginmu menenangkan Birumu melapangkan Pasirmu membahagiakan. Oh Laut Aku rindu kepadamu Rindu itu membawaku pada kerinduan pada Pencipta-Mu. Puisi Kampung Halamanku 52. Rumahku Di Tepi Sungai Teringat kampung halaman rumahku di tepi sungai banyak sekali pepohonan mengusik kerinduan. Sampan-sampan terapung di sungaiku jauh di kampung anak-anak pandai berdayung bermain hingga petang. Bangau-bangau terlihat terbang ke sarangnya mereka pulang di antara langit yang memerah sebab telah datang senja. Walau pergi jauh merantau kampung halaman selalu terkenang terkenang pula pada surau tempat mengaji bersama teman. 53. Permainya Kampung Halaman Gunung tinggi menjulang sawah luas terhampar suasana selalu damai ladang terlihat amat permai. di sanalah aku dilahirkan besar dalam buaian bersama ibu tercinta dihangatkan kasih ayah. biarpun jauh aku pergi kampung halaman tak terlupa rindu ini menggebu di hati kadang memberi rasa nestapa. moga kampungku selalu damai bagaikan semilir anginnya semoga kampungku selalu permai bagaikan gemericik airnya. 54. ALAM DESA Bukit di atas tanah Tertutup kabut tipis Hawa sejuk mentari cerah Padang rumput menghijau manis Gemericik air di sungai terdengar halus Halimun pagi menetes teduh Air terjun mengguruh deru Melaju membiru pantai Sejuk asin hangat pesisir Menerangi panorama desa Mewarnai guratan alam Mencipta indah alam desa 55. Pantaiku Kampung Halamanku Di kampung halamanku berjajar banyak perahu Di sanalah aku bermain bersama ombak lautan. Di kampung halamanku orang-orang jadi nelayan berangkat ke lautan tanpa takut diterjang gelombang. aku adalah anak pantai bermain di bawah matahari kulitku hitam legam menerjang ombak berderai. 56. Bunga-Bunga Mekar Di kebunku yang sederhana telah mekar sekuntum kembang dari ranting-ranting bunga datang kupu juga kumbang. indah sudah kembang berseri mekar di musim yang bersemi kucintai sepenuh hati kusiram setiap hari. Puisi tentang alam merupakan puisi yang paling banyak dibuat. Selain puisi cinta. Semoga dengan kumpulan puisi alam ini bisa memberi inspirasi kepadamu. Di bawah ini masih banyak lagi puisi lainnya. Semoga memberi manfaat untuk kamu semua. Jangan lupa untuk membaca puisi-puisi lainnya. Sekarang saatnya kamu membuat puisi sendiri. Referensi -
Simakbaca juga puisi yang lain di blog ini, semoga puisi tentang alam atau puisi lingkungan yang rusak di atas menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung. Menarik Untuk Dibaca Juga:Puisi mengandung rangkaian kata dan syair indah sehingga dapat dinikmati berbagai kalangan. Bentuk karya sastra ini juga berguna untuk menyampaikan beberapa pelajaran hidup. Salah satu contohnya adalah puisi tentang alam dan lingkungan yang ditulis guna menyampaikan kekhawatiran akan kerusakan-kerusakan yang terjadi di bumi. Mengapa Memilih Tema Alam dan Lingkungan? Bagi sebagian aktivis, puisi tentang alam dianggap efektif sebagai alternatif dari protes atau orasi yang ditujukan kepada para petinggi negeri yang telah mengabaikan keberlangsungan hidup masyarakat dan alam sekitarnya. Beberapa tema puisi tentang alam dan lingkungan yang membahas lebih spesifik tentang kerusakan di planet bumi ini, di antaranya carbon footprint jejak karbon, penggundulan hutan, penumpukan sampah plastik yang mengganggu ekosistem laut, dan masih banyak lagi. Sajak Matahari Oleh Rendra Matahari bangkit dari sanubariku. Menyentuh permukaan samodra raya. Matahari keluar dari mulutku, menjadi pelangi di cakrawala. Wajahmu keluar dari jidatku, wahai kamu, wanita miskin ! kakimu terbenam di dalam lumpur. Kamu harapkan beras seperempat gantang, dan di tengah sawah tuan tanah menanammu ! Satu juta lelaki gundul keluar dari hutan belantara, tubuh mereka terbalut lumpur dan kepala mereka berkilatan memantulkan cahaya matahari. Mata mereka menyala tubuh mereka menjadi bara dan mereka membakar dunia. Matahri adalah cakra jingga yang dilepas tangan Sang Krishna. Ia menjadi rahmat dan kutukanmu, ya, umat manusia! Puisi Sajak Matahari bertemakan kemanusiaan yang membahas tentang moral manusia. Dalam puisi tersebut, dunia digambarkan mulai hancur akibat keserakahan manusia itu sendiri. Mereka ingin menguasai dunia ini dengan menghalalkan beragam cara. Hutan Karet Ditulis oleh Joko Pinurbo Daun-daun karet di hamparan waktu. Suara monyet di kalong menghalau pucuk-pucuk ilalang belalang di semak-semak rindu. Dan sebuah jalan kenangan terjal. Sesaat sebelum surya berlalumasih kudengar suara bedug bertalu-talu. Puisi ini dapat diinterpretasikan sebagai penggambaran suasana hutan karet yang masih asri dan alami, belum banyak terjamah oleh tangan manusia. Embun Pagi Ditulis oleh Supriyanto Kala pagi menyingsing Matahari nampakkan sinarnya Kala itulah sang dingin unjuk diri Meliput indahnya sebuah.. Embun Pagi. Embun pagi yang mulai jatuh Jatuh dipelukankuuu.. Lembuttttt Selembun hatiku yang selalu merindukanmu Murni.. Semurni cintaku padamu Tulus.. Setulus kasih yang selalu indah Bermain dalam kerinduan hati Merekahhh bak bunga mawar yang putih Putih dalam kesucian diri Walau waktu menunjukkan kuasaNya Namun lembut dan beningnya Embun pagi Masih kurasakan. Hmmmm..Embun pagi! Kurindukanmu. Tuk yang jauh disana. Makna dari puisi ini adalah penggambaran tentang keindahan alam yang tidak lengkap tanpa embun pagi. Fenomena alam ini juga sangat erat kaitannya dengan isu kerusakan alam dan lingkungan. Baca juga 10+ Puisi Guru Terbaik dan Penuh Makna! Rintik Hujan Aliran sungai menguap ke angkasa Dibawa sang angin nan perkasa Disulap menjadi titik-titik embun Sehingga air hujan pun terbentuk dan turun Evaporasi, presipitasi, kemudian kondensasi Salah satu fenomena alam yang harus disyukuri Kehidupan Desa Kicauan burung saling bersahutan Di pagi hari yang sarat kehangatan Bermain pada pucuk serta dahan Lengkapi alam desa dengan keindahan Udara segar pun bersemilir Terselip di sela-sela dan pelosok desa Hari baru kini bergulir Suasana rasa sejahtera dan sentosa Jejak Karbonku Naik pesawat terbang Aku jadi tinggi melayang Naik kendaraan mobil Aku merasa bukan orang kecil Naik sepeda motor Kakiku jadi tidak kotor Namun, semua itu hanya ilusi Kendaraanku hanya meninggalkan polusi Hidup Kapitalisme! Hidup ini penuh kejar-kejaran Pun sarat dengan perlombaan Tiada lagi “ketulusan” jika tiada cuan Kita semua menjadi budak kapitalisme Demi kemewahan, kita sembah konsumerisme Bisa jadi kita juga kini menganut paham hedonisme Alam yang asri pun dieksploitasi Tak peduli tebalnya polusi dan radiasi Yang telah menguasai planet bumi Hidup kapitalisasi! Pantai Plastik Putih Kugenggam ia pasir putih Saat ku berlibur di pantai laut biru Nyiur melambai nan asri Diterpa angin yang menderu-deru Oh, namun, sayang… Ternyata bukan pasir di tangan Ternyata butiran plastik dalam genggaman Cinta Tanah Air Benarkah kamu cinta tanah airmu? Sejatikah rasa nasionalismemu? Aku meragu… Faktanya, kamu tetap membuang sampah sembarangan Kamu tetap menggunakan plastik sekali pakai Kamu tebangi pohon-pohon tak bersalah Kamu sumbat sumber mata air dengan lumpur dan semen Jadi, benarkah kau mencintai tanah airmu?… Kisah Gunung Agung Terdapat sebuah kisah Tentang gunung yang agung Ia menjulang tinggi Menembus kumpulan awan Hamparan hijau di bawahnya Begitu indah nan asri Hanya saja, itu kisah di masa lalu Kini, gunung nan agung telah dieksploitasi Tubuhnya digerus demi emas permata Tentu saja, pelakunya manusia Pemanasan Global itu Nyata Suhu bumi yang semakin meningkat Tumpukan sampah plastik yang selalu bertambah Volume air laut yang kian membesar Lubang ozon yang terus menganga Beberapa jenis hewan yang kini telah punah Masih mau bilang pemanasan global itu rekayasa?Nah, setelah mengetahui 12 contoh puisi tentang alam serta lingkungan di atas, sudahkah Anda tergerak untuk setidaknya tetap menjaga kebersihan lingkungan sekitar? Semoga contoh-contoh puisi di atas juga dapat menjadi inspirasi Anda dalam menulis puisi mengenai isu alam serta lingkungan. Kembangkan Dana Sekaligus Berikan Kontribusi Untuk Ekonomi Nasional dengan Melakukan Pendanaan Untuk UKM Bersama Akseleran! Bagi kamu yang igin membantu mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia, P2P Lending dari Akseleran adalah tempatnya. Akseleran menawarkan kesempatan pengembangan dana yang optimal dengan bunga rata-rata hingga 10,5% per tahun dan menggunakan proteksi asuransi 99% dari pokok pinjaman. Tentunya, semua itu dapat kamu mulai hanya dengan Rp100 ribu saja. Yuk! Gunakan kode promo BLOG100 saat mendaftar untuk memulai pengembangan dana awalmu bersama Akseleran. Untuk pertanyaan lebih lanjut dapat menghubungi Customer Service Akseleran di 021 5091-6006 atau email ke [email protected]
Inilahpuisi tentang alam yang rusak dan ulasan lain mengenai hal-hal yang masih ada kaitannya dengan puisi tentang alam yang rusak yang Anda cari. Berikut ini tersedia beberapa artikel yang menjelaskan secara lengkap tentang puisi tentang alam yang rusak. Klik pada judul artikel untuk memulai membaca. Semoga bermanfaat.
Puisitentang alam adalah puisi yang bercerita tentang berbagai fenomena di alam, seperti pegunungan, pedesaan, pantai, laut, atau tentang alam yang rusak. Source: cerdika.com. Ada banyak sekali destinasi wisata yang rusak dan hancur di tahun 2018. Kumpulan puisi tentang lingkungan hidup yang rusak. Source: contohpantunpuisicerpen.blogspot.co.id
7TfRn.